Sungguh tidak mudah tinggal di kota besar yang kacau, semrawut, dan tidak manusiawi. Kota dimana kita harus berebut udara yang pliket dan bau minyak tanah. Uang, harta, dan kekuasaan dijadikan tuhan, juga sebaliknya, Tuhan dijadikan harta dan kekuasaan. Kriminalitas adalah arisan. Kota penuh dengan mata-mata nanar yang tak bisa dibedakan, apakah pembunuh berdarah dingin atau orang-orang saleh. Di kota ini, rasa malu dan gotong royong adalah nilai purbakala. Tidak ada lagi kesantunan dan kebesaran hati terlihat di kota yang menjulang ini.

Tidak mudah menyuarakan hati nurani di kota ini. Mereka selalu terpojok di sudut-sudut kota, terdiam dalam hati. Tapi saya yakin masih banyak yang mempunyai hati nurani. Sebelum jiwa saya terganggu karena menjadi penduduk kota ini, saya menulis jurnal ini. Jurnal ini bukan mengenai benar atau salah. Bukan tentang uang atau kuasa. Ini adalah sekedar catatan, dimana seorang warga kota berusaha tetap waras. Ini adalah catatan yang terpojok di pinggiran kota. Anda boleh berbeda pendapat dengan saya, saya berterima kasih. Mari kita syukuri perbedaan di antara kita.

Thursday, May 6, 2021

Neraka Mudik, Pandemi, dan Belanja

Pernahkah Anda terjebak dalam Arus Mudik setiap tahun? Sejak merantau, tahun 1995 saya mulai merasakan Mudik tiap Lebaran. Dan ternyata Mudik adalah pengalaman 'neraka' buat saya. Bayangkan, puluhan juta orang bergerak dalam waktu yang relatif sama, kemudian kembali dalam jumlah yang kadang lebih besar lagi. 

Jumlah stasiun, terminal bis, pelabuhan, tetap sama saja, hanya orangnya yang membludak puluhan kali lipat. Kami harus berebut fasilitas dan alat transportasi yang sama, yang tidak akan pernah memadai. Jalan mungkin bertambah, tapi kota-kota kecil yang dilalui tetap segitu-segitu juga.

Dulu sebelum tiket kereta online, 10 hari sebelum mudik, biasanya setelah sahur kami bergegas ke stasiun kereta dan mulai antri tiket depan loket. Loket baru dibuka pukul 8, tapi dini hari antrian sudah mengular, kadang sering kehabisan tiket. Bahkan ada yang menginap di depan loket. Harga tiket sudah lebih mahal kira-kira 20% dari biasanya.

Pernah suatu tahun (mungkin 2004), saya nggak dapat tiket, saya pergi ke Terminal Pulogadung jam 6 sore, mencoba cari Bis apa saja yang menuju Timur. Terminal sudah penuh orang, tapi tidak ada bis satupun. Setiap bis datang, orang langsung berebutan dengan kasar, tanpa peduli sopan-santun. Nggak ada ceritanya orang Indonesia ramah-tamah dan gotong-royong seperti dalam buku pelajaran SD. Jam 11 malam saya dan teman saya baru dapat bis tujuan Semarang (padahal tujuan kami ke Surabaya). Kami naik bis dan tertidur, jam 5 pagi kami terbangun, ternyata masih sampai Cikarang, saat itu jalur Utara macet total karena jutaan orang Mudik berbarengan. Sampai Semarang, kami pindah bis jurusan Surabaya, dan dari situ saya lanjut ke Mojokerto. Total 20 jam saya di jalan, badan seperti remuk redam. 

Ketika dulu saya masih kuliah di Bandung, saya pernah ikut Arus Balik Mudik dari Kediri, naik kereta ekonomi Kahuripan (kira-kira 1997). Tidak ada nomer tempat duduk untuk kereta ekonomi saat itu, jadi kami berebutan, siapa kuat, dia dapat duduk. Jadwal berangkat kereta jam 2 dari stasiun Kediri, tapi jam 8 pagi orang sudah masuk kereta dan mematok tempat duduk. Saya tidak kebagian, akhirnya saya duduk di lantai kereta. Kereta berhenti di tiap stasiun, semakin lama penumpang semakin membludak. Sampai Madiun, saya sudah terjepit di lantai, tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan toilet pun penuh sesak oleh penumpang. Udara sangat pengap dan panas itu saya nikmati sampai 14 jam tiba di Bandung. Sesampainya di tujuan, perlu beberapa saat supaya saya bisa bangun, karena otot kaki seperti mati rasa. Itu benar-benar kereta maut buat saya. 

Ngomong-ngomong tentang kereta maut, teman saya dari Nganjuk pernah cerita tentang kenalan di kampungnya, seorang ART yang kerja di Jakarta. Pas Arus Balik Mudik, dia harus kembali bekerja di Jakarta, dia naik Kereta Ekonomi tujuan Senen. Dia membawa anak bayinya, naik dari Stasiun Nganjuk. Ternyata kereta sudah penuh sekali oleh penumpang, mereka terdesak-desak di dalam. Bayinya mulai rewel karena pengap dan panas, menangis terus, dia dekap saja. Setelah berjam-jam, sepertinya bayinya tertidur karena anteng. Sesampainya di stasiun tujuan, bayinya ternyata sudah meninggal. Tragis ya? 

Ada 2 hal yang menyebabkan Mudik menjadi bagian dari budaya kita. Pertama, ekonomi yang tidak merata, semua orang dari timur merasa mencari rejeki di barat, di ibukota, lebih mudah. Akibatnya ketimpangan ekonomi, ibukota dan sekitarnya diisi oleh para pendatang.

Kedua, alasan budaya keagamaan, Idul Fitri dalam budaya kita harus sholat ied bersama keluarga di kampung halaman. Ini yang khas Indonesia, karena di Arab Saudi atau negara-negara Islam lain tidak ada tradisi Mudik saat Idul Fitri. Di jazirah Arab, Idul Adha biasanya lebih meriah dibandingkan Idul Fitri, tapi juga tidak ada Mudik. Mudik adalah kejadian luar biasa perpindahan orang dalam jumlah besar dalam waktu bersamaan setahun sekali, istilah ilmiahnya adalah eksodus. Setiap eksodus pasti banyak permasalahan. 

Yang memiliki tradisi Mudik seperti kita adalah negara Cina, pada saat tahun baru Imlek, disebut dengan Chunyun. Chunyun adalah migrasi tahunan terbesar di dunia. Di Vietnam, perayaan Tahun Baru Tet juga dibarengi tradisi mudik yang disebut Ve Que. Dari awal wabah Covid-19, Pemerintah Cina sudah melarang Chunyun atau Mudik. Perpindahan orang dalam jumlah besar itu berbahaya dalam menimbulkan kerumunan, dan menyulitkan kontrol terhadap penyebaran infeksi. Dengan puluhan juta orang berpindah menuju arah yang sama dalam waktu yang bersamaan, tidak akan mungkin diterapkan protokol kesehatan yang ketat. Kasus Covid-19 bisa meledak tanpa kendali di seluruh daerah tujuan. 

Ssbagai renungan: apa tujuan kita Mudik? Apakah karena kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman? Kalau masalah rindu, tentunya tidak harus bersamaan di hari Idul Fitri, namanya juga rindu, bisa setahun penuh. Apakah Mudik lebih besar manfaat dari mudharatnya? Jaman sekarang bahkan mudik bukan monopoli yang merayakan Idul Fitri saja, karena banyak kantor dan instansi yang memberlakukan cuti bersama. Akibatnya pegawai yang non-muslim pun terpaksa ikut arus mudik karena mereka sudah terlanjur potong cuti dan kantornya pun ditutup. Itu yang menambah sengit perebutan fasilitas transportasi dalam arus mudik.

Ekonomi Mudik kalau kita amati adalah ekonomi yang tidak sehat. Harga tiket transportasi naik ketika musim mudik, konsumsi BBM melonjak, harga-harga bahan makanan sepanjang jalan pun melambung. Begitu ditinggal mudik, terlihat betapa rapuhnya ibukota, pasar dan tempat makan pada tutup, jalanan sepi, ditinggal jutaan penduduknya. Di kampung, ramai tukang jajanan, tapi tidak sustainable, karena ketika pemudik kembali, warung mereka menjadi sepi seperti semula. Malah ada warung pinggir jalan di Tegal yang viral mematok harga seafood Rp 700 ribu sekali makan, terlihat bahwa ekonomi mudik memang mengandalkan aji mumpung. Anda tidak membantu ekonomi negara dengan mudik, malah mungkin menyusahkan. Miliaran Rupiah dihabiskan para pemudik dan jutaan liter BBM dibuang percuma di kemacetan yang parah. 

Oke, mudik sudah dilarang karena kekhawatiran Pandemi Covid-19 yang semakin meluas. Tapi bagaimana dengan tempat wisata dan pusat belanja yang malah dibuka? Kok kelihatannya kontradiktif? Masalahnya adalah, kita masih bisa mengusahakan kontrol atas tempat wisata dan pasar, tapi kita akan kehilangan kontrol sama sekali kalau Arus Mudik dibuka. Ekonomi kita sudah mati suri hampir setahun karena Covid-19. Makanya kita mengusahakan agar ekonomi tetap berjalan dengan New Normal. Karyawan bioskop dan pedagang pasar bisa kerja lagi, tapi dengan menerapkan protokol kesehatan. Kita bisa beli baju lagi, tentunya tetap harus aman, pakai masker, sering cuci tangan, hindari kerumunan, dan jaga jarak dengan orang lain. 

Tapi memang, sehebat apapun peraturan pemerintah, semua kembali kepada kita sendiri. Kalau kita punya hati nurani, ya tentunya kita nggak akan tega sampai melanggar protokol kesehatan, memaksa mudik, atau kumpul-kumpul, arisan, halal bil halal, dan lain-lain. 

Ada yang bilang kita harus belanja baju baru untuk menghidupkan kembali ekonomi. Ya, itu memang benar sekali, saya setuju. Tapi kalau pasar rame, mengapa juga kita memaksa untuk belanja berdesak-desakan disana? Kan masih ada cara lain yang lebih aman untuk belanja, untuk bekerja, dan untuk rekreasi? Kan masih ada tempat rekreasi dan belanja yang ketat menerapkan Protokol Kesehatan New Normal? Belanja Online juga semakin marak, malah mendorong pemerataan ekonomi rakyat. Semua tergantung kita, bukan pemerintah: apakah Anda masih tega untuk melanggar protokol kesehatan?

Sunday, August 14, 2011

Menjadi (Atau Tidak Menjadi) Commuter

Saya hampir setiap hari naik KRL (Kereta Listrik) Jakarta-Depok untuk menuju ke kantor. Dulu setiap naik KRL, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tak terasa, buku setebal apapun habis terbaca, karena memang situasi di KRL cukup enak untuk membaca bagi saya, meskipun selalu berdiri. Saya makin kaya bacaan, karena perjalanan saya sebagai seorang commuter memakan waktu cukup lama.

Itu dulu, ketika masih ada KRL Ekspres. Sekarang KRL Ekspres sudah ditiadakan, digantikan KRL Commuter Line. KRL Ekspres hanya berhenti di stasiun besar tertentu, sedangkan KRL Commuter Line meskipun ber-AC berhenti di setiap stasiun, seperti kereta ekonomi. Memang harga lebih murah, KRL Ekspress dari Bogor Rp 11.000 dan dari Depok/Bekasi Rp 9.000, sedangkan KRL Commuter Line dari Bogor Rp 7.000, dari Depok Rp 6.000, dan dari Bekasi Rp 6.500. Akan tetapi kenyamanan dan kecepatan jauh berkurang. Jarak tempuh bertambah antara setengah sampai tiga perempat jam. Sudah rumah jauh, capek, kita harus bangun lebih pagi lagi untuk mencapai kantor tepat waktu. Dan sekarang, saya tidak bisa lagi baca buku di kereta. Bagaimana tidak, saking padatnya untuk bergerak saja susah? KRL Commuter Line sekarang sudah seperti lontong yang kebanyakan beras, penumpangnya membludak. Kadang sekedar untuk bergerak saja susah. Pintu otomatis juga kadang tidak bisa tertutup tertahan oleh penumpang yang membludak sampai pintu. Dengan penumpang sepadat itu, AC tidak akan terasa. Akhirnya tidak ada bedanya dengan KRL Ekonomi dengan tarif Rp 2.000, sama-sama padat, panas, dan lama.

Hari demi hari, kita seperti dibiasakan dengan siksaan ini. Apa daya, kita memang sebagai commuter, mencari cara yang lebih sulit untuk bekerja. Tapi itu tak seperti kita boleh memilih. Andai kita bisa memilih, kita akan memilih kantor dan rumah yang berdekatan. Tapi ini Jakarta Bung! Sebagian besar pekerja yang di Jakarta adalah commuter. Tidak mudah mencari tempat tinggal yang terjangkau dan memiliki livelihood yang nyaman di Jakarta. Akhirnya kita lari ke pinggiran. Di pinggiran pun sudah mulai sesak, seperti Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang, malah saya sering bertemu pekerja di Jakarta yang tinggal di Serang dan Kerawang! Mereka, seperti saya, tiap hari berjuang mengatasi buruknya transportasi Jabodetabek.

Jangankan jalan raya biasa, jalan tol pun macet setiap jam berangkat dan pulang kerja. Ini mengindikasikan bahwa penduduk Jakarta memiliki mobilitas yang luar biasa tinggi, sedangkan sarana transportasi begitu buruk. Saya pernah mencoba naik bis umum dari rumah ke kantor, ternyata memakan waktu 3 jam (sudah termasuk lewat tol). Bayangkan apabila tiap hari pulang pergi, maka saya menghabiskan waktu 6 jam setiap hari di jalanan. 6 jam itu adalah waktu yang hilang dalam hidup saya. Apabila dikalikan hari kerja saya (saya kerja 6 hari seminggu) maka saya mempunya waktu yang hilang sebanyak 1.878 jam setahun. Wow!

Mobilitas tinggi, sarana transportasi yang buruk. Bayangkan tubuh manusia yang mempunyai tekanan darah tinggi, tapi pembuluh darahnya dipenuhi kolesterol. Lama-lama kota ini bisa stroke. Ternyata bisa dimaklumi bila penduduk kota ini pemarah dan anarkis. Mereka stress. Harus ada perbaikan dan perubahan menyeluruh.

Jakarta sebagai kota megapolitan, jalan raya selebar dan setinggi dinosaurus, tapi sebenarnya tidak memiliki masterplan transportasi massal yang cepat dan nyaman. Busway tidak menyelesaikan masalah, karena terjebak macet juga, dan daya tampungnya sangat kecil. Akhirnya pemerintah Jakarta hanya mengandalkan Metro Mini lagi Metro Mini lagi. Agak memalukan memang, ketika kota besar lain di dunia sudah membangun subway dan MRT, kita masih terjebak dengan Metro Mini yang panas, busuk, dan karatan.

Sebenarnya KRL bisa dijadikan solusi. Akan tetapi ternyata KRL belum cukup. KRL tidak dibangun dengan baik oleh pemerintah. Dari itikadnya saja terlihat, misalkan KRL hanya beli bekas dari Jepang. Tidak ada jalur baru yang dibuat, tidak ada kereta baru, stasiun dibiarkan tidak terurus. Apalagi investasi yang benar-benar serius dari pemerintah untuk membangun jaringan KRL yang diandalkan di Jakarta, menunggu lebaran kuda.

Kalau mau serius, harusnya pemerintah menggelontorkan investasi besar di KRL. Anda pikir Singapura membangun dan merawat Mass Rapid Transit-nya dengan uang recehan? Toh hasilnya luar biasa. Kita tidak punya uang? Lihat jalan raya menjulang di Jakarta, ada flyover, underpass, jalan tol, dan sebagainya, apa mereka murah dilihat dari pembangunan dan perawatannya? Toh kita bisa membangun semua itu. Kita tidak punya uang untuk membangun jaringan MRT seperti Singapura? Lihat Bangkok, kota yang lebih kecil dari Jakarta, ternyata dia mampu. Kita bukannya tidak mampu, kita 'sebodo amat'.

Salah satu contoh kurangnya itikad pemerintah membangun KRL sebagai alternatif pengurai kemacetan di Jakarta adalah masalah tarif. Pemerintah ngotot mempertahankan kereta ekonomi untuk alasan populis. Harus dilihat bahwa KRL ekonomi adalah sumber masalah, karena KRL ekonomi sangat tidak aman, sering rusak karena umurnya yang tua, dan pendapatannya di bawah biaya operasional. Penumpangnya pun sangat tidak tertib dan tidak jarang yang tidak membayar karcis. Kereta lain sering terhambat karena KRL menemui masalah. Bukannya saya anti terhadap orang ekonomi lemah, tapi ada sistem yang sangat salah di sini.

KRL Ekonomi mempunyai tarif yang sangat murah, Rp 2.000 sudah sampai Bogor. Itupun banyak yang naik secara gratis karena selama saya naik beberapa kali, tidak ada pemeriksaan karcis. Di KRL Ekonomi hampir tidak ada aturan, orang bebas mau apapun. Berjualan boleh, naik atap boleh, memecahkan kaca boleh, merokok juga boleh. Dan hampir setiap laki-laki di KRL Ekonomi merokok. Saya perhatikan, sepanjang perjalanan, mereka merokok rata-rata 3 batang. Harga rokok di warung per batang adalah Rp 1.000 rupiah, berarti mereka habis Rp 3.000 untuk rokok saja. Tiket saja Rp. 2.000. Apakah mereka tidak mampu membeli apabila tiket disamaratakan menjadi katakanlah Rp 5.000? Kalau pemerintah mensubsidi para perokok ini, sebenarnya pemerintah kehilangan banyak sekali pendapatan, yang harusnya bisa membantu untuk membangun KRL dan stasiun yang lebih baik. Anda bayangkan, jarak Jakarta-Bogor adalah sekitar 50 km. Mana ada transportasi lain (se pro rakyatnya) yang hanya membayar Rp 2.000 untuk jarak 50 km? Bagaimana KRL Jakarta tidak rugi?

Subsidi harusnya diberikan per individu secara tercatat. Inilah kemalasan pemerintah. Keringanan bayar kuliah saja harus ada surat keterangan tidak mampu. Lagipula ada sistem ekonomi yang salah disini. Pekerja berpenghasilan rendah tidak seharusnya tinggal semakin jauh dari tempat kerja. Pekerja berpenghasilan tinggi justru yang sebaiknya tinggal di luar kota (kalau di Amerika Serikat disebut dengan daerah Suburban). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak punya kapasitas untuk menjadi adil dalam masalah tata ruang kota. Apakah pemerintah tidak memikirkan orang yang menempuh jarak 50 km hanya untuk mendapatkan penghasilan sekedar UMR?

Walhasil, semua orang, tua muda, miskin kaya, pria wanita, bahkan anak sekolah, menjadi commuter. Betapa berat hidup di Jakarta (dan sekitarnya). Sekarang saya semakin terdesak di KRL Commuter Line. KRL Commuter Line yang berhenti setiap stasiun sendiri menunjukkan ketidakpahaman pengelola akan konsep commuter. Commuter adalah pekerja yang menghabiskan waktu tiap hari menghabiskan waktu cukup banyak untuk menempuh jarak yang jauh dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Itu berarti para commuter hanya naik dari satu titik yang pasti dan turun di titik lain yang pasti. Mereka tidak perlu berhenti di setiap tempat. Seharusnya Commuter Line adalah seperti KRL Ekspres yang hanya berhenti di tempat tertentu. Mereka bukan pelancong.

Semakin berat sekarang menjadi commuter di Jakarta. Tiap hari, semakin banyak pula para commuter sehingga persaingan di jalan semakin berat. Akhirnya, yang bisa memilih, memilih untuk tidak menjadi commuter. Yang lain, harus menjalaninya dengan terpaksa. Tiap hari, lho?

Duh nasib commuter, kok muter-muter..?

Wednesday, March 9, 2011

Seandainya Saya Seorang Buruh Di Guangzhou

Seorang rekan belakangan ini baru pulang dari Cina. Dia pergi ke Guangzhou untuk menemui temannya, seorang pengusaha garmen lokal. Rekan saya sempat berkunjung ke pabriknya, dan kemudian berbagi pengalaman kepada saya tentang apa yang terjadi di Cina.

Pengusaha Guangzhou yang cukup sukses tersebut mempekerjakan sekitar 50 orang pekerja/buruh. Perusahaannya mengadopsi jam kerja yang sangat normal di RRC, tapi terdengar absurd bagi kita orang Indonesia. Pabrik itu tidak memberlakukan shift. Pekerjanya mulai bekerja pada jam 8 pagi.

Jam 12 mereka mulai istirahat makan siang selama 2 jam. Anehnya, kebanyakan pekerja hanya menghabiskan waktu 15 menit untuk makan siang. Sisa waktu istirahat 1 jam 45 menit mereka pakai untuk tidur. Benar-benar tidur siang yang nyenyak.

Jam 2 mereka bangun dari tidur dan mulai bekerja kembali. Sampai jam 6, ternyata mereka belum beranjak pulang ke rumah. Mereka hanya istirahat untuk makan malam, dengan 15 menit dipakai makan malam dan 1 jam 45 menit dipakai tidur kembali.

Jam 8 malam, mereka kembali bekerja dengan tekun. Kapan mereka bisa pulang ke rumah? Jam 11 malam adalah jam pulang kerja. Ini adalah jam kerja yang umum diberlakukan di seluruh Cina, bukan hanya karangan pabrik tersebut.

Ini berlangsung tiap hari selama seminggu penuh. Ya, seminggu penuh! Pekerja pabrik itu tetap bekerja di hari Sabtu dan Minggu. Mereka hanya dapat libur 1 hari dalam sebulan. Mereka baru dapat libur tambahan kala hari-hari besar dan waktu tahun baru Cina mereka bisa mendapatkan libur selama 2 minggu atau lebih.

Saya tidak bisa berkata-kata mendengar cerita tersebut. Antara kagum dan kasihan. Rekan saya menambahkan, buruh-buruh itu adalah pekerja terampil dengan profesionalisme tinggi. Mereka tidak akan bicara dengan sesamanya waktu kerja kecuali untuk urusan pekerjaan. Mereka tidak mengobrol, mendengarkan musik, merokok di ruangan kerja, makan, minum, ataupun meninggalkan station-nya barang semenit pun.

Kita selalu mendengar tentang keajaiban Cina dalam dunia ekonomi. Cina memiliki pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di dunia, 9% selama 25 tahun. Dia memiliki ekspor terbesar di dunia. Pertumbuhan Cina ini dimulai dari Deng Xiaoping, yang melakukan reformasi besar-besaran. Mereka melakukan perampingan dan pelonggaran birokrasi, pembukaan investasi yang berbasis pasar, penguasaan industri dan ekspor dunia, dan pemberian hukuman seberat-beratnya pada para koruptor. Wajar ekonomi mereka tumbuh luar biasa.

Juga wajar dengan pola kerja seperti itu, mereka akan melibas habis pasar Indonesia. Tak tanggung-tanggung, saya baca koran tadi pagi, baru beberapa minggu perdagangan bebas RI-RRC dibuka, industri aksesoris manik-manik lokal sudah tergerus sampai 40 persen. Pasar Tanah Abang, pusat komersial kain seluruh Indonesia tinggal menunggu waktu untuk dikuasai oleh pengusaha dari Cina. Kain dari Cina mulai membanjiri Tanah Abang. Mereka lebih murah, lebih banyak, dan salesperson yang datang langsung dari RRC di Tanah Abang lebih agresif. Menurut desas-desus, satu lantai dari pasar Tanah Abang sudah diborong habis oleh para pengusaha RRC. Peniti yang kita pakai sekarang adalah buatan Cina. Anda bayangkan, negara Indonesia sebesar ini tidak mampu mencukupi kebutuhan rakyatnya sendiri akan peniti?

Harus dipahami bahwa RRC adalah negara komunis. Mereka tidak dianjurkan untuk beragama. Berkeluarga juga dibatasi. Kepemilikan pribadi diatur negara. Tujuan hidup mereka adalah bekerja. Menurut filosofi komunisme, manusia bisa dilihat dalam 2 hal, bagaimana dia melakukan produksi (bekerja), dan bagaimana hubungan dari produksi-produksi tersebut. Manusia menjadi berarti apabila dia bekerja, dan masyarakat tempat kita bernaung adalah relasi untuk melakukan produksi. Tanpa produksi, tidak akan ada masyarakat, dan kita tidak bisa menjadi manusia seutuhnya. Untuk itu mereka bekerja, bekerja, dan bekerja lebih banyak lagi. Mereka tidak dianjurkan shalat 5 waktu sehari, atau pergi ke gereja tiap hari minggu. Mereka tidak perlu banyak waktu untuk dihabiskan dengan keluarga tercinta. Mereka bekerja seperti kesurupan. Bagaimana Indonesia bisa bersaing dengan manusia-manusia seperti ini?

Dalam benak buruh Cina tertanam logika bahwa mereka harus efisien dan produktif agar bisa hidup layak. Bila tidak produktif, mereka akan mati. Ini masalah survival. Ada anggapan umum mengenai karakter bahwa penduduk negara 4 musim lebih tinggi determinasinya dibandingkan penduduk negara 2 musim. Apalagi dibandingkan dengan Indonesia, negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Seorang tuna wisma di New York misalkan, bisa kelaparan dan dan mati kedinginan hanya dalam hitungan jam saat salju turun, bila gagal menemukan penghangat tubuh atau tempat berlindung. Indonesia memiliki musim yang bersahabat dan kekayaan alam yang melimpah. Etos kerja negara 4 musim pun lebih keras dibandingkan negara 2 musim. Di Cina, Anda akan menemukan pekerja-pekerja paling determinan di dunia. Terlepas dari masalah bahwa mereka diperas oleh negara dan pengusaha.

Ya, ironis bahwa mereka diperas oleh korporasi pemerintah dan pengusaha. Pekerja Cina bekerja seperti kesurupan, siang malam, tapi digaji sangat kecil. Pengusaha yang ambil untung, ditambah insentif ekspor dari pemerintah. Ambisi pertumbuhan ekonomi dari Cina melenyapkan nilai yang lain, yaitu etika. Mengapa produk Cina begitu murah? Karena mereka tidak menyertakan etika dalam membangun ekonomi. Mereka memperlakukan buruh seperti robot, padahal tinggal di negara komunis yang seharusnya buruh berkuasa dan sejahtera. Pekerja banting tulang dengan gaji rendah, bilamana tidak puas dengan yang diterima, ratusan orang sudah mengantre menggantikan posisi mereka. Cina berdagang tapi tidak peduli dengan konsumen. Atas nama profit, mereka mencampur susu dengan melamin yang beracun. Mereka menggunakan cat berbahan timbal untuk produk mainan anak-anak, yang bisa merusak syaraf dan otak anak-anak yang menghirupnya. Mereka sering mencuri desain dan tak peduli hak cipta. Jangan berpikir tentang tanggung jawab terhadap konsumen dan layanan purna jual, masalah spesifikasi produk saja sering berbohong.

Bagaimana bersaing dengan mereka? Memakai hati. Itu yang tidak dipakai oleh mereka. Ambil contoh produk batik. Kita menciptakan batik. Mereka juga ikut membuat batik, meniru, dengan harga lebih murah. Tapi mereka tidak memakai hati. Kita bisa. Kita membuat batik dengan sepenuh hati, sebagai kebanggaan kita.

Tentu saja kita harus meniru semangat dan profesionalisme mereka. Kita harus membuktikan bahwa kita bukan bangsa pemalas dan pengalah. Kita harus bekerja lebih keras dari yang sekarang kita lakukan. Bukan sebagai robot, tapi pekerja yang mempunyai hati. Kita juga harus bersatu, tidak seperti sebelumnya. Kita cinta negeri ini, kita cinta produk negeri ini, dan kita jangan rela negeri ini dikuasai negara asing manapun.

Ketertinggalan kita selama ini cukup parah. Tahun 50-an, Indonesia mulai membuka sentra industri logam rakyat (di Tegal) dan Cina juga mulai merintis. Saat itu cangkul dan arit buatan Tegal lebih unggul daripada buatan Cina. Sekarang, industri logam rakyat yang sama di RRC sudah memproduksi traktor, sementara di Tegal masih memproduksi cangkul. Kita punya kelemahan yang cukup kronis. Kebijakan ekonomi yang tidak terpadu, korupsi di pemerintah, lemahnya aturan dan penegakan hukum, oportunisnya pengusaha, dan minimnya insentif usaha, membuat kita semakin terpuruk. Tanpa kerja 15 jam sehari pun kita bisa menjadi negara maju apabila ekonomi biaya tinggi benar-benar kita tiadakan. Di Cina, baik pejabat, polisi, hakim, maupun pegawai negeri honorer, bila menerima suap, diancam hukuman mati. Di Indonesia, negara yang sangat taat agama sampai saking taatnya kadang rela bertempur dengan agama lain, orang tidak malu berebut meminta sogokan. Ini etos kerja yang paling rendah dan mentalitas tempe.

Orang Guangzhou tidak makan tempe. Guangzhou penghasil baja, orang-orangnya juga bermental baja. Apabila mereka pergi ke Indonesia, mungkin mereka akan terheran-heran dengan keadaan disini yang pelan bekerja tapi repot mengurus hal-hal lain. Seandainya saya seorang buruh di Guangzhou, saya akan pindah ke Indonesia, bekerja keras disini, memiliki kehidupan yang nyaman dengan keluarga tercinta dan menjadi sebenar-benarnya manusia. Seandainya saya orang Indonesia, saya akan mengadopsi prinsip orang Guangzhou dengan sedikit modifikasi, bahwa saya harus efisien dan produktif, agar saya bisa hidup makmur. Saya menolak keras ekonomi saya dan negara ini dikuasai oleh negara lain.

Tapi, saya memang orang Indonesia.

Monday, March 7, 2011

Myxomatosis

Pada tahun 1952, Prof. Armand-Delille kesal melihat kelinci-kelinci liar berkembang biak di rumahnya, Chateau Maillebois, yang seluas 3 km² di pedalaman Perancis yang asri. Pensiunan ilmuwan dan mikrobiolog itu ingin istananya bebas dari kelinci liar yang memakan tanaman hiasnya dan membuat lubang-lubang di bawah pohon.

Dia menangkap dua ekor kelinci dan menyuntikkannya dengan virus Myxomatosis, kemudian melepaskannya lagi. Virus ini adalah hasil mutasi yang didapat dari Australia dan belum pernah dikenal di Perancis sebelumnya. Tak lama kemudian, virus ini menyebar, terutama lewat kutu, ke populasi kelinci liar yang ada di istana Prof. Armand-Delille.

Dua Minggu kemudian, 2 ekor kelinci malang itu mati. 6 minggu kemudian, 98% populasi kelinci yang tinggal di pekarangan istana Armand-Delille tertular virus itu dan mati. Bangkai kelinci berserakan di halaman rumah itu. Sepertinya sang profesor sudah menyelesaikan masalahnya. Istananya sudah bebas dari kelinci liar.

Ternyata belum selesai sampai di situ. Dalam 4 bulan, virus itu sudah menyebar ke radius 50 km di sekitarnya. Bangkai-bangkai kelinci yang malang berserakan di hutan, halaman rumah penduduk, dan di jalanan. Pemandangan yang mengerikan. Dalam waktu 2 tahun, 98% dari populasi kelinci di Perancis musnah karena ulah Armand-Delille.

Wabah kelinci ini menyebar ke seluruh Eropa tak lama setelahnya. Di manapun di bagian Eropa saat itu, dengan mudah ditemukan bangkai kelinci. Entah bagaimana caranya, myxomatosis menyeberang ke Inggris tahun 1953. Dua tahun setelahnya, 95% populasi kelinci di Inggris mati.

Kematian mendadak mayoritas kelinci di Eropa ini ternyata memicu kepunahan spesies lain. Lynx, kucing besar dari Spanyol langsung saat itu juga memasuki ambang kepunahan. Makanan Lynx 90% adalah kelinci, mereka mati kelaparan karena kelinci menghilang.

Seketika itu keseimbangan ekologi berubah drastis atas campur tangan seorang manusia. Myxomatosis dianggap banyak kalangan sebagai senjata biologis generasi pertama. Memang tidak menyerang manusia lain, tapi membuka inspirasi bagi pihak berperang untuk menciptakan senjata pemusnah massal yang menggunakan media virus. Prof. Armand-Delille sendiri akhirnya terbukti bersalah akan keteledorannya di depan pengadilan dan dihukum beberapa ribu francs. Tapi setahun kemudian dia dipuji atas tindakannya oleh banyak pihak dan diberi penghargaan.

Mengapa manusia membenci kelinci sedemikian rupa? Kelinci tidak pernah memusuhi manusia. Kelinci tidak pernah terpikir untuk menghapuskan seluruh spesies manusia di dunia ini. Mengapa manusia menjadi penentu mana spesies yang boleh hidup dan mana yang harus dihapuskan? Apa karena manusia memiliki akal budi yang luhur, makhluk yang lebih baik dari binatang?

Tuhan menciptakan spesies manusia dengan pikiran dan akal budi karena manusia adalah ciptaan yang paling dicintai-Nya. Manusia adalah penguasa bumi, berkah dari langit kepada seluruh penghuni bumi. Akan tetapi sekarang ini manusia menjadi musibah terbesar bagi sebagian besar spesies di bumi. Manusia adalah predator terbesar hampir semua jenis binatang. Tidak hanya hewan ternak, kita membantai ikan paus ke ujung dunia hanya untuk memuaskan nafsu makan kita di restoran. Kita tidak cukup hanya memakan telur ayam, kita memburu penyu untuk dimakan dagingnya, diambil lemaknya, dijual tempurungnya, juga dimakan telurnya, memberi hanya 0,01% peluang pada semua bayi penyu untuk tetap hidup.

Kita adalah pembunuh badak paling berbahaya. Kita lebih sadis dari buaya, kita menguliti buaya dan menjadikannya sepatu dan tas. Kita menumpahkan minyak di laut dan membuang limbah di sungai-sungai tempat hidup banyak ekosistem.

Manusia tidak hanya membunuh hewan lain seperti singa atau beruang. Manusia juga saling membunuh sesama. Tidak ada spesies lain yang bisa membunuh sesamanya hanya karena harta, agama, kekuasaan, ras, atau cinta. Hanya manusia, spesies yang punya rasa benci. Hanya manusia yang berakal budi, yang bisa menyekap puluhan manusia yang lain kemudian dibunuh dengan gas. Hanya manusia yang berakal budi yang bisa melakukan pembersihan ras dan etnis. Hanya manusia yang berakal budi, yang tega menjatuhkan bom nuklir di Hiroshima.

Hanya manusia yang berakal budi. Bukan kelinci. Ya Tuhan, ampunilah segala dosa kami.

Wednesday, March 2, 2011

Penistaan

Kelompok beragama di Indonesia sangat mudah terpancing amarahnya. Mereka mempunyai kesabaran yang tipis dan kemampuan mencerna masalah yang dangkal. Umat beragama mudah sekali dipermainkan, diombang-ambing, diadu domba, dan digiring ke jalan kekerasan. Entah karena hinaan dan penistaan dari kelompok agama yang lain, atau sekadar desas-desus yang belum dibuktikan kebenarannya, mereka bersedia membunuh dan menyerang satu sama lain.

Dua kasus yang paling dekat adalah penyerangan dan pembantaian kaum Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, dan pembakaran gereja-gereja di Temanggung. Keduanya terjadi hanya selang beberapa hari. Keduanya juga menyisakan misteri, karena kelompok mana yang bertanggung jawab masih belum teridentifikasi. Semuanya adalah massa, yang bergerak dengan kemarahan yang sama. Karena massa, semua orang tidak punya nama. Semua yang melakukan penyerangan, pembunuhan, pelemparan batu, dan pembakaran, rupanya berharap akan surga Allah. Sebelum ada yang pernah mengalami neraka, mereka sudah duluan membuat neraka mini di dunia dengan menjadikan diri mereka algojo neraka.

Mengapa mereka menjadi beringas dan brutal seperti itu? Apakah itu karena keimanan yang terlalu kuat? Ataukah karena kebodohan yang menganggap bahwa pembunuhan adalah solusi sesungguhnya? Ataukah gabungan antara keduanya? Entahlah. Yang jelas, mereka merasa terhina sampai menjadi beringas seperti itu. Mereka merasa agama mereka, nabi mereka, Tuhan mereka telah dinistakan oleh kelompok selain mereka.

Mereka menuduh Ahmadiyah menistakan nabi mereka karena Ahmadiyah percaya akan nabi terakhir tambahan selain Muhammad SAW. Di Temanggung, massa Islam marah karena Richmond Bawengan, seorang penganut Kristen Protestan (yang sepertinya juga terlalu beriman) penyebar selebaran yang dianggap menistakan Islam dan pro Kristen divonis terlalu kecil, yakni 5 tahun penjara.

Saya sedih, karena saya memiliki keterikatan dengan kota Temanggung. Leluhur saya berasal dari Temanggung, dan sepanjang pengetahuan saya, kota ini memiliki toleransi agama yang sangat tinggi. Kakek buyut saya dulu adalah guru mengaji yang tinggal di Kampung Kauman (kampung Muslim). Sementara di Temanggung terdapat gereja-gereja katolik yang memiliki tradisi yang cukup kuat. Saya tahu beberapa komunitas Budha di daerah Parakan. Semuanya hidup rukun, tanpa pernah merusak dan mengganggu satu sama lain. Dulu saya selalu betah tinggal di Temanggung karena masyarakatnya yang ramah kepada siapapun. Sekarang Temanggung sudah membara. Penyebar selebaran yang menyinggung umat Islam itu seorang Kristen Protestan, tapi massa Islam malah merusak dan membakar gereja Katolik. Kebencian yang salah alamat ini mengindikasikan bahwa kebodohan adalah sesuatu yang berbahaya dan dapat membuat umat beragama diombang-ambingkan dan dipermainkan.

Inti sebenarnya dari penistaan agama adalah keyakinan. Saya percaya bahwa agama dan nabi saya adalah benar, dan agama dan nabi kamu salah. Hampir semua umat beragama berpikiran seperti ini. Boleh dibilang, hampir semua umat beragama pernah menistakan agama lainnya. Kalau saya bilang bahwa nabi Anda bukanlah nabi sebenarnya, nabi sayalah nabi sebenarnya, maka mungkin Anda menganggap saya menistakan agama Anda. Padahal inilah yang saya percaya dan benar menurut saya. Jadi jangan buru-buru menyerang saya karena kita berbeda pikiran. Misalkan Anda menganggap bahwa nabi saya bukan nabi, melainkan hanya sekedar pedagang yang buta huruf, itu adalah kepercayaan Anda. Sama seperti misalkan saya menganggap bahwa Tuhan Anda adalah bukan Tuhan, melainkan sekedar orang biasa. Itu kepercayaan saya. Jangan hukum saya seperti saya tidak akan menghukum Anda karena kepercayaan Anda. Kita harus bijaksana melihat perbedaan kepercayaan ini. Kita harus saling menghormati perbedaan dalam damai, dan hidup berdampingan. Bagaimanapun juga, Tuhanmu bukanlah Tuhan yang aku percaya, begitu pula sebaliknya.

Saya teringat suatu saat saya menghadiri ibadah Jumat. Imamnya berbicara dengan sangat keras, dengan sound system yang membahana sampai ke ujung perkampungan, bahwa kita tidak boleh mengucapkan selamat hari raya umat agama "A", karena itu berarti kita mengimani Tuhan "A", sedangkan kita tidak percaya bahwa "A" adalah Tuhan. Yang tidak disadari sang imam adalah bahwa lingkungan sekitar masjid itu banyak didiami oleh pemeluk agama "A". Mereka merasa marah karena disalahkan di masjid. Tapi mereka, walaupun banyak, hanyalah minoritas. Bila mereka mayoritas, mungkin saja kerusuhan akan terjadi karena merasa "ternistakan". Semua hanya karena imam atau pemuka agama yang tidak bijaksana. Hampir setiap masjid memang (mungkin sebagai demonstrasi dari dominasi) dilengkapi dengan sound system yang jangkauannya melampaui 10 kali dari lingkungan masjid itu. Suatu hal yang aneh karena sound system itu awalnya dipakai hanya agar jamaah dari shaf paling belakang mendengarkan doa imam, bukan ratusan orang yang jaraknya ratusan meter yang tidak ada hubungannya dengan khotbah di masjid itu. Bisa Anda bayangkan, apabila ada gereja yang memakai sound system yang begitu membahana ke lingkungan sekitar, apalagi khotbahnya mengenai perbedaan agama, mungkin label penistaan agama akan berlaku lagi.

***

Bagaimana dengan Ahmadiyah? Ahmadiyah mengaku punya nabi baru yang bernama Gulam Ahmad. Kelompok Islam menganggap Gulam Ahmad ini sesat. Saya pribadi juga berpikir seperti itu. Tapi biarlah, saya tidak berpikir mereka berniat menistakan nabi Muhammad SAW, ataupun Allah SWT. Kalaupun mereka sesat, mereka bisa dikembalikan ke jalan yang benar. Akan tetapi, mereka tidak akan mau kembali ke jalan yang benar apabila kita terus-terusan melempari mereka dengan batu. Apabila kita melempari penganut Ahmadiyah dengan batu, mereka akan semakin percaya bahwa mereka telah beriman kepada hal yang benar. Mereka tak mungkin beralih menjadi Islam Sunni hanya karena kita rajam mereka dengan batu. Sama seperti orang Islam tidak mungkin beralih menjadi Kristen atau Yahudi karena mereka dihujani batu tajam sekalipun.

Kita harus mengembalikan mereka dari jalan yang sesat ke jalan yang benar dengan kasih sayang dan pengertian yang terus-menerus. Itulah yang dinamakan dakwah. Rasulullah sering sekali dilempari batu ketika berdakwah, sampai terluka dan berdarah-darah. Rasulullah tidak pernah membalas melempar batu kepada orang-orang Quraysh yang pemarah dan pembenci itu. Kita saat ini justru yang melempari batu ke orang lain. Andaikan kita kehabisan kesabaran, belum berhasil juga membawa orang sesat ke jalan yang benar, Allah tidak akan pernah kehilangan kekuasaannya sebiji pasir pun. Kita tidak perlu menyiksa, menyerang, dan membunuh orang sesat karena Allah tak akan kecil karena mereka.

Apakah Ahmadiyah mengancam keberadaan umat Islam? Ahmadiyah adalah kelompok eksklusif yang hanya terdiri dari ratusan ribu orang yang kalah persenjataan dan dana. Mana mungkin mengancam umat Islam di Indonesia yang ratusan juta? Apakah Ahmadiyah mengancam keberadaan Allah? Tidak pernah sedikitpun. Kuasa Allah maha besar, tanpa kita bela pun tetap maha besar. Tanpa kita bela pun, Allah bisa memusnahkan seluruh peradaban beserta isinya bila berkenan. Justru kita yang perlu memohon pembelaan dari Allah, bukan sebaliknya.

Apakah Rasulullah Muhammad SAW menjadi kecil apabila dihina oleh umat lain? Saya rasa sama sekali tidak. Sekarang banyak yang mengaku nabi. Yang percaya nabi baru itu hanya sebagian kecil, itupun kadang dianggap orang-orang tidak waras. Jangankan mengaku rasul atau nabi baru, yang mengaku malaikat saja ada. Jangankan mengaku malaikat, yang mengaku dirinya Tuhan saja ada. Mansyur Al Hallaj di abad 9 pernah mengaku bahwa dia adalah Allah. Pada jaman Rasul sendiri, bahkan ada orang lain yang menganggap dirinya nabi. Thulaihah bin Khuwailid adalah sahabat Rasulullah sendiri yang mengangkat dirinya sebagai nabi. Dia dikalahkan oleh pasukan khalifah Abu Bakar, bukan karena menistakan agama, melainkan karena dia berkhianat terhadap pemerintahan Madinah pimpinan Abu Bakar. Dia dianggap melakukan desersi dan menolak membayar zakat kala itu. Thulaihah pun masih dibiarkan hidup setelah Muhammad SAW dan Abu Bakar RA meninggal dunia.

***

Mungkin terlalu cintanya kita kepada Rasulullah, sampai mudah sekali kita tersinggung dan dibawa ke jalan kekerasan. Itu adalah cinta kekerasan, bukan cinta Rasulullah. Ada sebuah cerita yang menarik pada masa kehidupan Rasul yang bisa memberikan inspirasi. Alkisah, di Madinah tinggallah seorang nenek buta yang beragama Yahudi. Nenek itu selalu saja mengucapkan makian dan hinaan kepada Muhammad dan agama barunya. Rasulullah memperhatikan nenek itu dan menyadari kalau nenek itu tidak diurus oleh keluarganya. Akhirnya setiap hari Rasulullah menengok nenek itu dan menyuapi dia dengan makanan. Walaupun sedang disuapi, nenek itu tetap saja melontarkan hinaan dan caci maki kepada yang bernama Muhammad, sang nabi baru, dan Islam, agama baru. Ini adalah 'penistaan' sesungguhnya, karena langsung di depan muka Rasul sendiri.

Ketika Rasulullah meninggal, Abu Bakar RA bertanya kepada Aisyah RA, apa kebiasaan Nabi yang belum dilakukannya. Aisyah menjawab bahwa setiap hari Rasul selalu menemui nenek Yahudi buta di kampung dan menyuapinya. Abu Bakar pun pergi menemui nenek itu untuk menyuapinya juga. Abu Bakar memperhatikan bahwa nenek itu masih juga menghina dan mencaci maki Muhammad. Ketika Abu Bakar menyuapinya, nenek itu marah-marah. Si nenek bilang bahwa Abu Bakar menyuapinya dengan kasar, tidak selembut orang yang sebelumnya. Abu Bakar mengaku bahwa dia penggantinya, dan bahwa yang biasa menyuapinya selama ini sudah meninggal. Nenek itu penasaran, siapa yang sebenarnya menyuapinya tiap hari. Abu Bakar RA berkata bahwa yang biasa menyuapinya dengan penuh kelembutan adalah orang yang selama ini selalu dihina dan dimakinya, yaitu Muhammad SAW. Seketika itu juga nenek itu menangis tersedu-sedu.

Bila mendengar cerita tersebut, saya merasa bahagia. Itulah sesungguhnya wajah agama yang lembut, damai, penuh kasih sayang, dan pemaaf. Bukan wajah agama yang penuh cacian, penuh lemparan batu, ramai teracungnya golok dan samurai, penuh kemarahan, penuh hasrat balas dendam, dan sarat kekejaman.

Monday, February 28, 2011

Kryptonite

Ini bukan cerita saya. Saya hanya menceritakan kembali. Sebaiknya tidak perlu dianggap fakta. Lebih baik dianggap fiksi yang dekat dengan realitas saja.

Di kota Surabaya lahir dan tumbuh seorang wanita bernama Rani. Sejak kecil hingga dewasa, Rani terlihat menunjukkan kecerdasannya. Hasil tes memang menunjukkan IQ-nya diatas rata-rata. Selain cerdas, ternyata dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik rupawan. Di setiap sekolah negeri favorit tempat dia bersekolah, dia selalu menjadi bunga yang merekah indah.

Ketika lulus SMU, Rani memutuskan untuk belajar Informatika di perguruan tinggi di Bandung. Dia menolak anjuran ayahnya mendaftar ke fakultas kedokteran di Surabaya. Ayahnya ingin Rani jadi dokter. Tapi begitulah Rani, keras kepala. Rani cerdas, pintar, dan ambisius, selalu mengejar segala yang dia inginkan sampai dapat. Dan benar saja, ketika lulus, Rani diterima bekerja di perusahaan besar dengan posisi bagus dan gaji cukup besar. Cantik, cerdas, mandiri, tegas, ambisius, apa lagi yang kurang? Rani adalah sejenis superwoman, menurut saya.

Rani pindah dari Bandung ke Jakarta setelah diterima bekerja. Masa depan karirnya bisa luas tak terbatas. Dia tinggal sendirian di Jakarta. Sampai dia mengenal Adi.

Adi adalah pria dari keluarga berada yang berwajah mirip bintang TV Ari Wibowo. Setelah mengenal Adi, dunia Rani berbunga-bunga. Dia jatuh cinta dengan Adi. Akhirnya mereka berpacaran. Sejak itu Rani dimabuk cinta, tak merasa sendirian lagi di Jakarta.

Adi sendiri tidak beruntung dalam dunia akademis. Dia akhirnya drop out dari universitas mahal di daerah Jakarta Barat. Dia mencoba main-main jual beli accessories mobil dan otomotif, selain itu masih mendapat uang saku yang cukup besar dari orang tuanya. Rani tidak menganggap ini menjadi masalah. Itu bukan hambatan cintanya untuk Adi.

Tahun pertama mereka berpacaran, sifat Adi yang sesungguhnya mulai terbuka. Adi ternyata pemarah. Beberapa kali Rani menjadi korban kemarahan. Beberapa kali pula Adi menunjukkan kemarahan yang akut. Itu pertama kalinya seumur hidup Rani mendapat kata-kata makian. Mungkin cintanya begitu tulus, Rani tidak bisa membalas. Dia hanya menangis. Bahkan dia menganggap bahwa semua itu kesalahannya sendiri.

Menjelang tahun ketiga, mereka menikah. Mereka tinggal di rumah orang tua Adi, karena orang tua Adi membujuknya. Tapi Adi sekarang malu sering-sering meminta uang saku dari mamanya. Karena bisnisnya yang mirip main-main tidak selalu menghasilkan, akhirnya mayoritas biaya rumah tangga dibiayai oleh gaji Rani. Hampir setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak.

Meskipun sudah dikaruniai seorang anak, ternyata Adi belum berubah banyak, masih pemarah. Frekuensinya bahkan semakin sering. Pernah Rani menghabiskan waktu hampir seharian menangis di kantor dengan mata biru sebelah. Semalam Adi marah besar ke Rani, dan memukul wajah Rani. Pagi itu, Adi memang minta maaf ke Rani, tapi sebulan kemudian pemukulan di wajah itu terulang. Setelah itu, beberapa kali Rani menjadi korban pemukulan Adi ketika marah-marah.

Rani makin sering menangis di kantor. Konsentrasi dalam pekerjaannya sering buyar. Dia menolak peluang beasiswa ikatan dinas di kantor pusatnya di Amerika Serikat. Sebelumnya, Adi marah-marah akan niat Rani mencoba sekolah lagi di luar negeri dengan biaya kantor, menuduh Rani berniat melarikan diri dari tanggung jawab membesarkan anaknya. Keadaan di rumah semakin parah buat Rani. Mertuanya juga menuduh Rani terlalu sibuk bekerja sampai lupa mengurus suami dan anaknya.

Rani merasa hidupnya bagaikan dalam neraka. Dia selalu tertekan tiap hari. selalu was-was, tidak tenang, bahkan ketika tidur di sebelah suaminya. Tapi dia tetap bersyukur telah diberkahi seorang anak laki-laki yang lucu dan sehat. Semua ini hanya cobaan yang harus dilewati dan akan segera berlalu. Dia juga terus berdoa agar suatu saat Adi berubah menjadi orang yang penyayang dan penyabar. Suatu saat Adi akan tahu betapa dalam cintanya terhadap Adi, begitu pikir Rani.

Anda penasaran akan nasib Rani selanjutnya? Sama, saya juga. Ceritanya memang belum selesai. Mungkin nanti cerita tentang superwoman kita ini akan saya teruskan.

Dalam cerita komik, Superman adalah manusia paling hebat sejagad raya. Punya kekuatan luar biasa, kebal senjata, bisa terbang, memiliki penglihatan menembus tembok dan pendengaran jarak jauh, bahkan bisa menembakkan sinar laser dari matanya dan membuat gunung es dari tiupan nafasnya. Akan tetapi Superman pun punya kelemahan. Dia tidak berdaya ketika berhadapan dengan sebongkah batu yang bernama Kryptonite. Agak aneh, kristal permata yang harusnya memancarkan cahaya kehijauan yang indah itu bisa menimbulkan maut bagi manusia super setengah dewa, Superman.

Kadang manusia super memiliki kelemahan yang tidak kita sangka-sangka. Superman memiliki Kryptonite. Bagi Rani, superwoman kita, Kryptonite-nya adalah Adi. Segala kekuatan super Rani bisa luruh di depan Adi, tak berdaya.

***

Ferdinand Marcos awalnya adalah pahlawan rakyat kecil Filipina. Rakyat Filipina mengagumi Marcos muda. Setelah menikahi penyanyi desa ambisius bernama Imelda, Marcos akhirnya menjadi presiden Filipina dan kemudian menjadi tiran tangan besi yang mengumpulkan harta kekayaan negara untuk pribadi. Marcos bahkan menyuruh orang untuk menembak mati Ninoy Aquino, lawan politiknya yang populer. Aquino sebelumnya pernah menolak cinta Imelda, yang sekarang menjadi istri Marcos. Ferdinand Marcos telah menemukan kryptonite-nya, Imelda.

Yudhistira, kakak tertua dari Pandawa adalah tokoh paling jujur, paling baik, paling setia, paling penyayang, dan paling sabar dalam dunia pewayangan. Tidak ada orang yang bisa membencinya. Konon bila dia naik kereta kuda, kereta kuda tersebut mengapung di udara, tidak menyentuh tanah, karena Yudhistira tidak pernah berbohong sebelumnya seumur hidup. Tapi Yudhistira ternyata juga punya kelemahan: berjudi. Ketika berjudi, dia gelap mata. Kerajaan, kehormatan, bahkan istri tercintanya sendiri pun dipertaruhkan dalam meja judi. Kryptonite ala Yudhistira.

Mungkin kita sedih, superman dan superwoman kesayangan kita bisa jatuh hanya karena hal-hal yang sebenarnya buat kita remeh. Kita bisa berharap mereka bisa bangkit lagi dan menyingkirkan Kryptonite mereka selamanya. Ada yang ingin membantu mereka untuk bisa terbang lagi. Tapi ada juga sebagian dari kita yang memilih untuk menonton saja, berharap happy ending akan muncul dengan sendirinya.

Saya? Saya hanya menulis blog.

Sunday, February 27, 2011

Berlomba-lomba Dalam Kekejaman

Tahun 1965, massa Pemuda Rakyat dan Barisan Tani yang asosiatif dengan PKI, dengan parang dan golok, menyerbu sebuah masjid di Kanigoro, Kediri, dimana anggota PII (dituduh sebagai underbouw Masyumi yang dilarang oleh pemerintah) berkumpul. Beberapa orang hilang dan tewas dibantai, dan masjid itu dirusak.

Tahun ini, massa menyerbu Ahmadiyah (yang juga dilarang) di Cikeusik, Pandeglang, dengan golok dan tombak, beberapa orang tewas dibantai dan hilang.

Labelnya beda. Bajunya beda. Tapi judulnya sama, tetap bunuh-bunuhan. Tetap siksa-menyiksa. Tetap sadis dan tetap kejam. Tetap indonesia.

Apakah berlaku pepatah "berlomba-lomba dalam kekejaman" disini? Setelah bertahun-tahun sejarah tertulis, apa yang berubah? Mengapa kita terus mengulang kekejaman yang sama?